Dear You…..

Dear You,

Kamu adalah bulan purnama yang menghiasi langit malamku yang kelabu. Kamu adalah satu-satunya sumber cahaya ketika semesta semakin kelam dan bintang-bintang berkedip lemah di kejauhan. Meskipun kamu sering mengkhianati malam dengan tetap berada di langit ketika matahari sudah naik, tapi sejatinya bulan adalah milik malam…
Matamu adalah telaga sejuk tempatku mencari kedamaian ketika isi kepala ini sudah terlalu sesak dan dada ini sudah nyaris tak mampu menampung segala rasa yang bercampur menjadi satu. Pelukanmu adalah di mana aku mendapatkan rasa aman. Di mana aku mencari kehangatan ketika malam hanya menawarkan rasa dingin.

Aku pernah berkata padamu bahwa setiap hari aku harus berperang melawan rasa takut yang sama. Setiap kamu berkata “Aku pergi dulu ya?”, aku harus bersiap seakan-akan kamu tak akan kembali. Setiap kali kamu memelukku sebelum berlalu, aku harus bersiap seolah itu adalah pelukan terakhir darimu. Setiap kali kamu tersenyum padaku, aku merasa harus bersiap bahwa itu adalah terakhir kalinya aku melihat senyummu.

“I have these dreams for you, future thoughts. Let me worry about that, okay? But you just have to trust me…” kamu berkata padaku malam itu ketika mimpi-mimpiku semakin hari terasa semakin kelam. Aku tersenyum dan mengangguk, namun dalam hati aku tetap merasakan hal yang sama. Bukannya aku tak percaya padamu, aku tahu kamu tak berniat pergi… Tapi bagaimana jika kamu harus melakukannya? Bagaimana jika kamu tak punya pilihan lain?

Aku pernah bermimpi kita berada di sebuah persimpangan. Aku dengan kegelapan malam di belakangku, dan dia dengan cahaya matahari di belakangnya. Lalu kamu berdiri di tengah-tengah. Kamu memandangku dengan tatapan penuh penyesalan. Bibir kita saling mengucapkan “I love you…” tanpa suara. Lalu kamu berjalan menghampirinya. Menggenggam jemarinya, dan kalian pun melangkah diterangi cahaya matahari yang dibawanya. Meninggalkanku dalam temaram yang semakin lama semakin gelap. Tak sekali pun kamu menoleh kepadaku. Ketika kamu memandangku, itu adalah kali terakhir kita bertatapan, kali terakhir kita saling melontarkan kalimat “I love you…” dan kali terakhir aku melihatmu.

Aku tahu, segalanya berjalan di luar dugaan. Segala rasa yang aku punya tumbuh tanpa bisa aku kendalikan. Kamu membuatku mau melakukan hal-hal yang sebelumnya tak ingin aku lakukan. “That’s love…” begitu katamu ketika aku menjelaskan kepadamu. Yes, that is love. I know… Indah tapi sekaligus menyakitkan. Indah karena tidak ada fabrikasi. Sakit karena kamu tidak akan pernah jadi milikku sepenuhnya. Aku memang akan selalu berusaha untuk menyunggingkan senyum termanisku untukmu sambil mengangguk ketika kamu pamit untuk pergi meskipun hatiku tersayat sembilu. Aku memang akan selalu berkata, “Tidak apa-apa…” sambil tersenyum dan mengecup bibirmu, meskipun hujan air mata sudah turun dengan deras di dalam hatiku.

I am my own worst enemy. I asked you to lie to me to protect my feelings, but deep down I always know the truth. Aku takut, aku tak cukup kuat. Aku takut suatu hari aku akan lantak dan tak lagi mampu membendung semuanya. Aku takut suatu hari nanti aku menginginkanmu hanya untukku saja. Aku takut suatu hari nanti aku tak lagi sudi mendengar kebohongan-kebohongan yang kamu lontarkan atas permintaanku. Aku takut suatu hari nanti aku menyerah dan memilih untuk pergi darimu karena tak lagi sanggup merelakanmu untuk bersamanya. Aku takut semua itu sudah sangat dekat dan hampir terjadi. Hanya soal waktu…

Isi kepalaku adalah lorong gelap dengan jutaan perkara dan pertanyaan yang berlarian dengan bebas memenuhi setiap sudut gelap yang ada. Ada banyak perkara yang tak sanggup untuk aku uraikan. Ada banyak pertanyaan tak berjawab yang menanti untuk dilontarkan. Ada bidadari bersayap hitam yang siap memelukku dan membawaku masuk ke sudut tergelap di dalam rongga kepalaku serta menahanku di sana. Selamanya. Aku adalah tawanan pikiranku sendiri dan tak seorang pun bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepalaku. Aku sendiri pun tak paham. Aku dan pikiran-pikiranku yang melelahkan. Aku dan ketakutan-ketakutanku. Aku dan pikiran-pikiranku yang kelam… yang seringkali membuatku ingin memenggal kepalaku sendiri…

Mungkin sebagian orang memang ditakdirkan untuk jatuh cinta namun tak ditakdirkan untuk bersama. Kamu pernah berkata bahwa ketika kamu jatuh cinta, kamu menambatkan dirimu pada orang yang kamu cintai dan hanya kamu seorang yang bisa melepas ikatan itu. Aku takut kita tak lagi bisa bersama. Aku takut tak lagi bisa menatap telaga sejuk yang ada di matamu ketika hati dan pikiranku kalut. Aku takut tak lagi bisa mendapatkan rasa aman dari rengkuh lenganmu yang hangat. Aku takut rasa yang ada tumbuh semakin besar dan semakin sulit untuk dikendalikan. Aku takut bidadari bersayap hitam itu akan menguasaiku dan kamu tak lagi bisa mengenaliku. Aku tak ingin kamu pergi dariku karena aku bukanlah perempuan yang kamu kenal lagi. Maka mungkin harus yang aku berlalu darimu. Sebelum semuanya terlambat…

Jika saat itu tiba, jangan cari aku…. cukup pasang saja delapan tangkai bunga mawar putih…

Original Posted by : https://btaridurga.wordpress.com/2015/09/22/dear-you/

MEGA SENJA

Indah sekali mega yang berwarna lembayung ini, bukan?

Senja adalah perbatasan antara siang dan malam. Beberapa hal di dunia ini takut dengan kegelapan dan bersembunyi dari itu….sedangkan hal lainnya menyatu dengan kegelapan dan melakukan hal sesuka hati mereka. Aku misalnya, yang menyukai senja dan malam setelahnya.

Pemandangan mentari tenggelam dengan corak kemerahannya…..sama seperti bayangan malam hari yang semakin gelap dan kelam. Sekaranglah saat bagi mereka yang berada dipertengahan bisa dengan mudah melewati perbatasan. Ada juga yg mengatakan di saat inilah para iblis keluar dari peraduannya. Mencari kesenangan, melakukan hal-hal gilanya, menggoda manusia.

Sebagian dari mereka menganggap malam adalah hal yang menakutkan karena gelapnya, namun bagiku saat malam adalah waktu yang TERINDAH. Waktu dimana aku bisa melihat keindahan yang tak bisa dihadirkan oleh siang.

Senja & Malam

Aku rindu saat – saat  menikmati senja bersamamu, entah mengapa senja terasa lebih hangat dari biasanya saat aku bersamamu, terasa lebih panjang sampai sang malam datang memandu kita pada kegilaan yang nyata.

Malam bersamamu pun terasa lebih indah, lebih gila dan terasa lebih sedikit ramai dari malam – malam yang ku rasakan tanpamu. Sampai aku tak mau pagi datang, aku tak pagi merenggutmu dari senja dan malamku. Inginku ku usir pagimu, tapi apalah dayaku yang tak punya kekuatan apapun untuk menghalangi sang pagi yang akan merampasmu dariku lagi, yang bisa kulakukan hanya menantikan senja dan malam bersama sang pagi yang membosankan tanpamu.

Ada yang mengatakan begini “Kita akan merasa bahagia jika orang yang kita cintai juga bahagia meski bersama orang lain”.

What the hell…..!!! Makiku, aku selalu mengatakan kalimat itu adalah kalimat ter bulshit yang aku tau.

Bagaimana mungkin kita bahagia melihat orang lain yang kita cinta bersama dengan orang lain. Bagaimana cara kita tak terluka melihat mereka. Bagaimana caranya???

Entah apakah aku egois atau mungkin aku yang gila?! Tapi sudahlah yang pasti aku tidak pernah bahagia jika melihat orang yang ku cinta bahagia bersama orang lain. 

MALAM

 Pagi yang usang
Siang yang terik
Senja yang indah
Dan malam yang sangat ku rindukan

Pagiku terlalu membosankan
Siangku sangat melelahkan
Senjaku yg penuh kehangatan
Dan malamku yang penuh suka cita

Aku mencintaimu laksana aku mencintai malam
Terbatas namun pekat
Sunyi namun penuh arti
Gelap namun indah

Balas Dendam

Aku selalu percaya bahwa karma itu ada, tapi aku tak mengira akan sesakit ini. Perbuatan jahatku terbalaskan dengan rasa sakit yang sama, disebabkan oleh kebohongan yang sama pula. Aku sadar ini semua awalnya adalah salahku, tapi baru saat ini semua kebohonganmu itu terkuak, jika setidaknya aku tau dari dulu mungkin sekarang aku bisa sedikit mengobati sakit atau bahkan aku bisa menerima dengan ikhlas karma yang aku terima. Aku mengutuk diriku berkali-kali, menepuk dadaku berkali-kali, tapi masih saja sakit. Menangis? sepertinya aku sudah tak sanggup, semua air mataku telah mengering, hanya perih yang aku rasakan saat ini. Ada lubang yang menganga begitu sangat lebar sekarang dirongga dadaku. Lubang yang ada karena terkikis oleh luka, luka yang mungkin karena perbuatanku sendiri atau mungkin juga tidak. Kosong, hampa, tak bisa merasa! Semua tertutup oleh kabut rasa sakit. Apakah aku akan balas dendam lagi? atau mungkin aku akan diam dengan tetap membiarkan lubang didadaku tetap menganga seperti ini. Aku ingin lari, tapi untuk apa lari? Lari hanya dilakukan oleh seorang pecundang bukan?? Jadi aku takkan lari, mungkin aku harus balas dendam untuk sakit ini……MUNGKIN hanya BALAS DENDAM yang bisa mengobati luka ini dan setidaknya mungkin lubang didadaku bisa tertutupi dengan rasa puas saja.

Itulah yang sedang aku pikirkan saat ini.

Luka Ini Masih Basah

Luka yang kau goreskan sebelumnya masih belum kering, tapi sudah kau cabik lagi hati ini.
Sakit, meski tak ada darah yang keluar tapi entah kenapa terasa perih dan sakit.
Harus berapa lama aku menahan luka ini sendiri, sedangkan dirimu tak pernah perduli.
Kau selalu bilang menyesal telah mencabik hatiku, tapi kata menyesal yang kau ucapkan hanyalah sebuah angin yang berhembus yang hanya lewat sekejap saja dan lalu menghilang entah kemana.
Lalu kau mencabik hatiku lagi, lagi, lagi dan lagi sampai kering air mata menahan perihnya luka tanpa darah yang kau gores dihatiku.
Sampai kapan kau terus mencabik – cabik hati ini? Apakah sampai aku benar – benar mati?
I’m done!!!
Ingin sekali mulutku mengucap kata itu dan pergi meninggalkanmu tapi entah kenapa hati yang tersakiti ini tak mau pergi darimu.
Haaaahh… Sungguh bodoh!!!

Begitu Salah, Begitu Benar

Aku tau ini salah, tapi aku tak bisa menahannya

Aku tau ini harusnya tak boleh, tapi hati terus berontak

Aku tau ini salah, tapi aku sakit jika tak mengakuinya

Bagiku ini benar, karena cinta ini memang benar adanya

Ini salah, tapi ini juga benar

Jika memang ini salah, haruskah aku menyalahkan perasaanku?

Tapi jika ini benar bagiku, apakah benar juga penghianatan yang aku lakukan padanya saat aku juga mencintai “dia”?

Kadang benar dan salah begitu dekat

Sampai tak terfikir bagaimana mendeskripsikan antara salah dan benar itu

Lelaki dalam Mimpi

images

“Siapa dia?” tanya batinku, sesosok laki-laki yang sering muncul dalam mimpiku dan aku tak pernah bertemu sama sekali dengannya.

Apakah aku harus percaya bahwa aku bisa jatuh cinta pada laki-laki yang sering muncul hanya dalam mimpiku itu? Dia begitu menawan, tingkah lakunya, bicaranya, cara dia memperlakukanku, aku benar mengagumi sosoknya dalam mimpiku.

Mimpi indahku bukan tentang laki-laki yang kucintai dalam dunia nyataku, namun laki-laki yang hanya ada dalam mimpiku. “Siapa dia? mungkinkah dia nyata?” masihku bertanya-tanya.

Tak pernah bisa aku melupakan sosoknya, dia benar-benar bisa membuatku terpana, membuatku merasa nyaman lebih nyaman dari rasa nyaman yang biasa kuraskan bersama laki-laki yag kucintai dalam dunia nyata.

Dia laki-laki yang kucintai dalam dunia mimpi, akankah dia akan hadir kembali dalam mimpiku di malam – malam berikutnya? Ah aku merasa benar – benar gila mencintai seseorang yang muncul dalam mimpiku…….

Taukah Kamu?

image

Kasih bisakah kau merasakan sesaknya dadaku setiap perkataannu yang seakan – akan aku ini berkhianat padamu? Umpatan kata – kata yang membuat merasa seperti manusia paling hina di dunia.

Kasih bisakah sedikit saja kau percaya bahwa yang ada di pikiranku hanya kamu? Aku tau semua itu kau lakukan hanya karna kau takut akan pengkhianatanku terulang lagi, tapi bisakah sedikit saja kau menghargaiku yang ingin berubah menjadi lebih baik?

Kasih taukah kau setiap kata curigamu itu membunuh usahaku, membunuhku perlahan rasa nyaman bersamamu. Aku tak mau bosan, aku tak mau merasa tak nyaman hidup bersamamu.

Kasih taukah……ah sudahlah kamu tak mungkin pernah tau